Masa Depanku

Sekarang saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sedikitlebih kritis, apakah Anda bertambah kaya dengan bunga yang Anda dapatkan dari bank? Anggap saja sekarang Anda punya uang sebanyak sepuluh juta rupiah (Rp. 10.000.000,-). Uang ini Anda tabung ke dalam deposito berjangka 1 tahun dengan bunga 8%. Apabila kita hitung secara sederhana, di tahun mendatang jumlah uang tabungan Anda akan bertambah menjadi Rp. 10.800.000,-.

Pertanyaannya adalah: Apakah Anda bertambah kaya?

Apabila Anda hanya melihat dari angka nominal, Jawabannya adalah BENAR. Anda makin kaya. Alasannya adalah jumlah uang Anda bertambah sebesar delapan ratus ribu rupiah (Rp. 800.000,-).

Sekarang mari kita lihat dari aspek real. Anggap saja pada tahun ini harga satu kotak rokok adalah sepuluh ribu rupiah (Rp. 10.000,-). Dengan uang sebesar sepuluh juta rupiah, pada saat ini Anda dapat membeli 1.000 kotak rokok.

Pada tahun berikutnya, jumlah uang Anda bertambah menjadi Rp. 10.800.000,-. Di sisi lain, harga rokok juga naik, katakanlah menjadi Rp. 11.000,-. Jadi dengan jumlah uang Anda pada saat itu, Anda hanya bisa membeli 981 kotak rokok. Lebih sedikit 19 kotak dibandingkan dengan sekarang.

Kembali ke pertanyaan semula:
Apakah Anda bertambah kaya?

Jawabannya adalah TIDAK. Sebab jumlah barang yang bisa Anda beli dengan uang Anda justru semakin sedikit.

bisnis yuk, ………..?

Suga Fried Chicken & Kebab
Wednesday, 19 December 2007

Harga Hemat, Rasa Nikmat

Ayam goreng dan kebab yang satu ini belum lama muncul. Namun, antusiasme pembeli untuk menikmati produk makanan ini cukup hebat. Maka, dalam tempo singkat sudah menyebar ke beberapa lokasi di Jakarta. Mau coba?Rian S.

Tagline yang diusung produk ayam goreng kering dan kebab  ini sangat menarik. Harga Kaki Lima Rasa Bintang Lima.  Harganya yang berkisar antara Rp 4 – 5 ribu per potong, mencerminkan harga kaki lima. Namun, jangan tanya rasanya. Gurih dan nikmat serasa makanan hotel bintang lima. Begitulah, publikasi yang kerap diusung dan dicantumkan dalam brosur maupun outlet Suga fried chicken & kebab, sebuah makanan ayam goreng dan kebab.  

Di kompleks permukiman Nusa Indah, Pondok Gede dan sekitarnya, makanan ini sudah begitu akrab dengan pembeli.  Dalam jam-jam tertentu tiga outlet yang berada di wilayah Jakarta Timur itu kerap didatangi pembeli. Per harinya, terjual hampir 100 pieces di setiap outlet nya.  Ini, masih ditambah lagi dengan larisnya  kebab dan swarma, roti berisi daging yang menyerupai hotdog khas Timur Tengah.

Suga fried chicken & kebab, lahir dari kejelian Agus Setiawan, pendiri sekaligus pemilik brand makanan ini. Dunia bisnis bukanlah hal baru baginya. Sebelum berbisnis ayam goreng, pria kelahiran Tasikmalaya ini pernah bergelut dalam berbagai bisnis mulai dari usaha sablon, jasa foto copy, pedagang sapi serta cabai. Disela-sela mengurusi bisnis dan pondok pesantren Nurul Amanah, Tasikmalaya, dia melihat peluang di bisnis makanan, khususnya ayam goreng. Dengan mengajak kedua rekannya, dia  kemudian mendirikan bisnis makanan ala cepat saji  ini hanya bermodalkan Rp 8 juta. Dana itu dipakai untuk membangun gerobak dan beberapa peralatan lainnya.  Nama Suga, kebalikan dari nama Agus.

Outlet pertama muncul di Kawasan Perumahan Villa Nusa Indah yang notabene adalah rumah Agus sendiri.  Citarasa yang berbeda dengan makanan sejenis serta sajian yang menarik serta harga kompetitif, menjadikan makanan ini dalam tempo singkat cepat dikenal.  “Kami bisa meraup omset Rp5 juta per hari,” ujar Agus.
Sukses ini menambah rasa optimisme Agus. Tak lama kemudian–masih di tempat sama– dia menambah dua outlet lagi. Alasannya, Suga ingin menjangkau konsumen yang lebih luas lagi. Kondisi geografis kompleks Vila Nusa Indah yang luas serta populasi penduduk yang besar, merupakan lahan potensial. Asumsi ini benar. Kedua outlet nya pun  memperoleh sambutan luar biasa.

Di tahun yang sama, Agus membangun usaha lain, yakni Suga Kebab, makanan khas Timur Tengah. Suga Kebab, terinspirasi dengan munculnya makanan sejenis yang juga mulai tumbuh subur.  Tak ada yang beda dengan bisnis ayam gorengnya. Suga Kebab juga direspons konsumen. Meski hanya publikasi lewat gerai ayam goreng, konsumen tetap antusias menikmati produk kebab Agus. Dengan pertimbangan ekonomis, Akhirnya, kedua usaha ini digabungkan dengan nama Suga fried chicken & kebab.

Permintaan konsumen tidak hanya sebatas produk saja. Keinginan untuk membuka cabang di beberapa daerah cukup tinggi baik itu di Jabotabek  maupun kota lain. Akhirnya, pada 2006 lalu Suga resmi di business opportunity kan. Dan, sejak itu secara berurutan outlet-outlet baru bermunculan.  Sekarang, Suga telah memiliki 8 outlet, empat di antaranya adalah Suga fried chicken dan kebab, empat sisanya adalah  Suga kebab. Enam outlet dimiliki oleh Agus, sedang dua sisanya adalah investor.

Agus mengakui bahwa pihaknya membatasi jumlah outlet. Alasannya, di samping SDM yang masih terbatas, suplay dan manajemen pengawasan ke cabang untuk luar kota juga masih belum sempurna.  Untuk itulah, untuk sekarang dia masih berkonsentrasi di Jabotabek dan sekitarnya. “Ada permintaan dari Sulawesi dan Kalimantan, namun masih saya pertimbangkan,” ujar pebisnis foto studio dan warnet ini. 
Untuk membuka cabang Suga cukup mudah. Selain memiliki lokasi usaha yang strategis, seperti di perumahan, pusat belanja, kampus atau sekolah, investor harus memiliki komitmen untuk berbisnis ayam goreng dan kebab.  Manajemen Suga, memiliki beberapa tawaran menarik, yakni paket investasi untuk fried chicken sebesar Rp16 juta, kebab (Rp16 juta) serta  fried chicken dan kebab (Rp 28 juta).  Biaya itu sudah termasuk, franchisee fee selama lima tahun, perlengkapan seperti freezer , gerobak, seragam dan royalty. Investor tinggal memiliki tempat dan karyawan saja, langsung bisa membuka cabang Suga. “Bila lokasinya sangat strategis, saya berani menjamin dalam 6 sampai 12 bulan akan mencapai titik impas,” ujarnya.

Cepatnya balik modal dan meraih laba, tambah Agus, lantaran bisnis ayam goreng adalah bisnis makanan yang terus bertumbuh. Lokasi strategis serta citarasa yang khas adalah kunci utamanya. Untuk masalah taste misalnya, Suga terus berinovasi tentang resep makanan, khususnya tepung untuk campuran ayam gorengnya.  Produk ayam goreng luar negeri legendaries adalah benchmark nya. “Acuan saya selalu kesana. Saya harus bisa membuat makanan ini lebih enak ketimbang kompetitor,” ujarnya bersemangat. Ini juga dilakukan untuk produk kebabnya. Meski sekarang banyak kompetitor bermunculan, Suga tetap tak khawatir. Citarasa yang tepat akan terus mengundang pembeli.

PAKET INVESTASI

KRITERIA
Franchise Fee
Perlengkapan
Total
Lama Kerjasama   
Royalti
BEP
FRIED CHICKEN            
Rp. 5 juta
Rp. 11 juta
Rp. 6 juta
5 tahun
5%
6-12 bulan
KRITERIA
Franchise Fee
Perlengkapan
Total
Lama Kerjasama   
Royalti
BEP
FRIED CHICKEN & KEBAB
Rp. 6 juta
Rp. 22 juta
Rp. 28 juta
5 tahun
5% – 10%
6-12 bulan
KRITERIA
Franchise Fee
Perlengkapan
Total
Lama Kerjasama   
Royalti
BEP
KEBAB
Rp. 5 juta
Rp. 11 juta
Rp. 6 juta
5 tahun
5% – 10%
6-12 bulan
   

Kenapa Masjid Bermenara?


Di mana berdiri masjid, di situlah menara menjulang. Ibarat sayur tanpa garam, sebuah masjid tanpa menara seakan kurang afdol. Menara atau orang Barat menyebutnya minaret, tampaknya sudah menjadi elemen penting yang sukar untuk dipisahkan dari arsitektur masjid. Tak heran, jika menara selalu setia mendampingi masjid-masjid besar di seluruh penjuru dunia.

Kehadiran menara yang bertengger kokoh menjulang langit akan semakin menambah kemegahan dan keindahan sebuah masjid. Sejak dulu manusia kerap mengasosiasikan ketinggian dengan superioritas dan kekuatan. Bangsa Prancis dan Amerika, misalnya, membangun menara Eiffel dan gedung pencakar langit New York sebagai simbol kekuatan teknologi.

`’Kehadiran menara pada bangunan masjid merupakan simbol dari peradaban Islam,” ujar President Islamic Culture Foundation, Cherif Jah Abderrahma­n. Menurut Abderrahmain, bentuk arsitektur yang paling strategis dan terbaik sebagai penanda kehadiran dan keberadaan Islam di suatu tempat adalah menara.

Sebagai bagian dari simbol peradaban, menara dibangun umat Islam lantaran memiliki fungsi yang amat penting, yakni sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan. Sesuai dengan kondisi geografis dan situasi pada zamannya, selain sebagai tempat untuk adzan, beberapa menara yang dibangun juga berfungsi mercusuar atau menara pengintai.

Fungsi tambahan minaret itu biasanya terdapat pada menara-menara masjid yang berada di kota pelabuhan atau tepi sungai. Menara Masjid Ribbat Shushah di Tunisia, misalnya, juga befungsi sebagai sarana pertahanan, karena amat mirip sebuah markas militer. Di era modern, menara tak dijadikan tempat untuk adzan, namun lebih sebagai tempat untuk meletakkan alat pengeras suara.

Lantas sejak kapan sebenarnya umat Islam melengkapi bangunan masjid dengan menara? Menurut sarjana Inggris terkemuka yang mengkaji arsitektur Islam, KAC Creswell, masjid Quba yang dibangun Rasulullah SAW di Madinah tak dilengkapi dengan menara. `’Pada saat Nabi Muhammad belum dikenal menara,” ungkap Creswell.

Pada era kepemimpinan Khulafa’ Ar-Rasyiddin pun, papar Creswell, bangunan masjid belum dilengkapi dengan menara. Semasa Rasulullah SAW hidup, agar gema adzan bisa terdengar sampai jauh, maka sahabat yang biasa menjadi muadzin naik ke atap rumah Nabi. Creswell memaparkan, jejak menara di dunia Islam pertama kali ditemukan di Damaskus mulai tahun 673 M.

`’Menara pertama kali berdiri di samping masjid 41 tahun setelah Nabi Muhammad SAW tutup usia,” tutur Creswell. Meski begitu, beberapa sarjana mengungkapkan, di rumah Abdullah Ibnu Umar berdiri sebuah tiang. Dari atas tiang itu adzan dikumandangkan adzan sehingga bisa terdengar sampai jauh. Konon, tiang itu masih berdiri hingga abad ke-10 Hijriyah.

Sekitar tahun 703 M atau 91 H, Umar ibnu Abdulazziz juga telah membangun empat menara t di setiap sudut Masjid Nabi. Setiap menara tingginya mencapai sembilan meter. Melalui menara itu, muadzin bisa mengumandangkan panggilan shalat. Sementara itu, Ensklopedia Britanicca menyebutkan, menara masjid tertua di dunia terdapat di Kairouan, Tunisia yang dibangun antara tahun 724 M hingga 727 M.

Versi lain menyebutkan, Khalifah Al-Walid (705-715) dari Bani Umayyah merupakan pemimpin pertama yang memasukkan unsur menara dalam arsitektur masjid. Al-Walid yang memang dikenal memiliki selera dan kepedulian tinggi dalam rancang bangun arsitektur telah memulai tradisi membangun menara sebagai salah satu unsur khas pada masjid.

Menara masjid pertama muncul ketika Khalifah Al-Walid memugar bekas basilika Santo John menjadi sebuah masjid besar yang bernama Masjid Agung Damaskus. Awalnya, pada bekas basilika itu terdapat dua buah menara yang berfungsi sebagai penunjuk waktu, lonceng pada siang hari dan kerlipan lampu pada malam hari. Menara itu sebenarnya merupakan salah satu ciri khas bangunan Byzantium.

Dalam Ensikopedia Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve (IBVH) disebutkan, asal-usul menara sebagai sebuah bangunan arsitektural mungkin didasarkan pada satu ada campuran beragam sumber. Ada yang menyebutkan berasal dari menera api simbolis Zoroaster hingga menara pengawas Romawi, mercu suar pantai, hingga gereja.

Terlepas dari mana asal-muasalnya, Khalifah Al-Walid amat tertarik untuk mempertahankan kedua menara yang bertengger di basilika Santo Jhon itu. Bahkan, untuk mempertegas wibawa dan kemegahan Masjid Agung Damaskus itu, Al-Walid kemudian membangun lagi sebuah menara di sisi utara pelataran masjid — tepat di atas Gerbang al-Firdaus. Menara itu pun biasa disebut Menara Utara Masjid Damaskus.

Setahun kemudian (706 M), Khalifah Al-Walid memutuskan memugar Masjid Nabawi di Madinah. Awalnya, masjid itu tak dilengkapi satu menara pun. Atas perintah Al-Walid, para arsitek mulai membangun menara masjid sebagai tempat muadzin untuk mengumandangkan adzan. Bentuk menara pada Masjid Nabawi dan menara utara Masjid Damaskus sangat mirip, terutama pada ornamen kubah puncak menara yang ramping.

Kala itu, menara masjid adalah sesuatu yang baru. Bentuk menara seperti menara Masjid Agung Damaskus terbilang cukup populer. Hingga 250 tahun kemudian, bentuk menara Masjid Nabawi dan Masjid Agung Damaskus masih menjadi model tipikal menara Masjid Al-Azhar yang dibangun oleh Dinasti Fatimiyah di Kairo.

Menara tunggal adalah menara yang paling umum dibangun. Namun, kerajaan Usmani dan Mogul kerap membagun menara kembar yang memiliki arti perlindungan raja. Bahkan, ada pula yang langsung membangun empat menara di samping masjid, sekaligus. Masjid Sultan Ahmad I di Istanbul malah dilengkapi enam minaret dan hanya selisih satu dengan Masjidil Haram di Makkah yang memiliki tujuh menara.

Meski tak lagi menjadi tempat untuk mengumandangkan adzan, hampir setiap bangunan masjid besar di seluruh dunia dilengkapi menara. Menara telah menjadi simbol dan lambang keberadaan Islam. Namun, kini tak semua negara yang berpenduduk mayoritas Islam mengizinkan berdirinya menara masjid.

Kantor urusan masjid Kementrian Wakaf Mesir misalnya, telah mengumumkan untuk tak lagi mengeluarkan izin pembangunan menara bagi masjid baru. Alasan keputusan itu adalah untuk mengurangi pembiayaan pembangunan masjid. N heri ruslan

Geneologi Sejarah Pesantren


Asal usul dan kapan persisnya munculnya pesantren di Indonesia sendiri belum bisa diketahui dengan pasti. Bahkan, peneliti tarekat dan tradisi Islam asal Belanda, Martin Van Bruinessen, menyatakan tidak mengetahui kapan lembaga tersebut muncul untuk pertama kalinya.Namun, memang banyak pihak yang menyebut –dengan berpijak pada pendapat sejarawan yang banyak mengamati kondisi masyarakata Jawa, Pigeud dan de Graaf– pesantren sudah ada semenjak abad ke 16.

”Namun tidak jelas, apakah semua itu merupakan lembaga pendidikan tempat pengajaran langsung. Karena sebutan `pesantren’ (sebuah istilah yang menurut saya baru muncul belakangan), patut dipertanyakan,”tulis Martin dengan mengutip pendapat pakar sejarah, Hoesien Djajadingrat, yang menulis buku mengenai sejarah Banten.

Disamping itu, menurut Martin, banyak penulis yang cenderung mengatakan bahwa keberadaan pesantren sebagai sarana kesenimbanguan dengan lembaga pendidikan pra-Islam, yang muncul dalam desa Perdikan. Namun, anggapan ini tidak sepenuhnya tetap, karena dengan status sebagai wilayah `bebas pajak kerja rodi’ keterkaitan pesantren dengan desa Perdikan itu tampaknya tidak ada sangkut pautnya.

Apalagi, melalui survei pemerintahan kolonial Belanda yang dilakukan pada akhir abad ke-19, ternyata dari 211 desa Perdikan yang ada, ternyata hanya empat desa saja yang penghasilannya diberikan untuk membiayai pesantren. Inilah yang kemudian menguatakan argumenatsi bahwa pesantren berdiri tersendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan adanya desa Perdikan itu.

Dari catatan sejarah, lembaga pendidikan pesantren tertua dadalah Pesantren Tegalsari di Ponorogo, yang didirikan pada tahun 1724. Namun sekitar seabad kemudian, yakni melalui survei Belanda tahun 1819, tampak sekali bahwa pesantren tumbuh dan berkembang secara sangat pesat, terutama di seluruh pelosok Pulau Jawa. Survei itu melaporkan lembaga pendidikan ini sudah terdapat di Priangan, Pekalongan, Rembang, Kedu, Surabaya, Madiun, dan Ponorogo.

Melihat data itu Martin Van Bruinessen yakin bahwa sebelum abad ke 18 atau sebelum berdirinya Pesntren Karang, belum ada lembaga yang layak disebut pesantren. Yang ada hanyalah tempat pengajaran perorangan atau perorangan biasa atau tidak terstruktur.

Pada fakta lain, dalam Serat Centhini, memang sempat disebutkan bahwa tokoh Jayengresmi yanh hidup sezaman dengan Sultan Agung Mataram, yaitu pada paruh Abad ke-17, mempunyai lembaga pendidikan pesantren. Tapi ini diragukan karena serat Centhini baru disusun pada awal abad ke-19. S

Sedangkan, `klaim’ lain bahwa pesantren sudah berdiri sejak ke-16 atau seiring masuknya Islam di Banten sudah ada pesantren yang disebut Perguruan Karang, juga diragukan.

Hello world!

Welcome to NURUL  AMANAH ISLAMIC BOARDING SCHOOL

Jl. Raya Tasik-Garut Km. 31 Rancak Salawu Tasikmalaya 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.